Injil masuk di lembah Yalimo kampung suwele Piliyam
tanggal 24 maret 1961 merupakan keutuhan misi penginjilan GKI di daerah Yalimo,
hanya karena kepentingan kerajaan Allah menuntun Misionaris mendaratkan Injil
di daerah Yali dan Mek karena berada di satu lembah yang tidak dapat dipisahkan
dari kehidupan social kemasyarakatan tetapi di bedakan dari suku dan bahasa.
Injilpun mulai menyebar melakukan penyiaran di lembah Yahuli di angguruk masuk
pada tanggal 19 Mei 1961. Tempat dimana pusat pelayanan penginjilan, pelayanan
pendidikan nonformal Nare-nare dan pusat kesehatan, di angguruk di tetapkan sebagai pusat semua
pelayanan oleh missionaris.
pada waktu pekerjaan lapangan terbang angguruk ada
beberapa orang dari serekahi juga terlibat karena lantaran hubungan
kekeluargaan dengan orang helariki. Orang Serekahi banyak sekali keturunan dari
helariki dan sebaliknya, termasuk penginjil pertama dari orang Kosarek Ismael
Suhuniap ibunya dari Helariki dan Penginjil Pertama Thomas mulikma lahir di
helariki di uala.
Karena lantaran hubungan kekeluargaan orang serekahi
dan orang Helariki pada tahun 1964 Maklon soneap bersama rombongan naik ke Angguruk
bantu kerja lapangan di Homtongko yang sekarang disebut dengan Angguruk, dan setelah kerja saat mau pulang hadiah yang
dikasih oleh Para Misionaris berupa garam, perna bawah turun ke orang serekahi
yang tinggal di Telam dan Pintewalikmu dan ada beberapa orang lagi naik minta
ke Pdt. Siegfried Zoelner untuk bawah kabar baik atau (ALLAH WENE) ke daerah
mereka. Tetapi karena pelayanan untuk missi baru belum dipikirkan sehingga
mereka focus kepada perluasan pelayanan di wilayah angguruk lembah Yahuli dan
Sosom terlebih dahulu melakukan perluasan Injil.
Pada akhirnya pada tanggal 25 November 1970 Pdt.
Siegfried Zoelner dan Adam Roth bersama rombongan mulai berjalan dari Angguruk
untuk buka misi baru di daerah Kosarek. Mereka sampai di seberang gunung yenggu
berseblaan dengan kampung serekahi di sobom, karena waktu sudah malam mereka
melakukan doa sulung dan tidur di situ, pada pagi hari ada pihak yang tidak
terima dengan kedatangan mereka karena persiapan jimat-jimat atau (merawal)
langsung komukasi dengan kampung lain untuk melakukan penyerangan, tetapi
karena orang serekahi, ada pihak lain
merasa kasih sayang terhadap mereka pergi duluan ke Sobom dan tembak panah
sembarangan supaya mereka harus meninggalkan tempat dan kembali ke anggruk.
Kalau tidak ada orang yang pergi duluan tembak kearah lain sebagai kode untuk
mereka tinggalkan sobom di sebla serekahi berarti masa besar dari berbagai
kampung yang datang membunuh Pdt. Siegfried Zoellner dan Adam Roth Bersama
Rombongan.
Perjalanan mereka ini banyak yang menduga bahwa
melakukan penolakan, sedangkan dalam bukunya, Susanne Kisah kehidupan dan
pelayanan Keluarga Pdt. Klaus Reuter, yang di terbitkan oleh Wahine di halaman
65. “Meskipun demikian kami anjurkan
kepada para siswa sekolah Alkitab, untuk belajar bahasa disana, karena bahasa
di pinij juga merupakan bahasa yang di gunakan di daerah Kosarek, yaitu daerah
dimana Zoellner dan Roth perna di usir ketika melakukan perjalanan kunjungan
untuk membuka hubungan. Di kemudian hari apabila orang-orang dari Kosarek
meminta penginjil atau guru, maka para siswa inilah yang bisa memulai pelayanan
disana. Menurut laporan-laporan terbaru yang masuk ada beberapa kampung di
daerah Kosarek yang menginginkan seorang guru, tetapi disisi yang lain juga ada
kampung-kampung lain yang menyiapkan peralatan perang untuk membunuh setiap
orang baru yang datang. Yang pasti kami sedang menyiapkan segala sesuatu untuk
hari ke X di Kosarek yang kami yakini pasti akan tiba waktunya.”
Dalam buku ini menjelaskan bahwa sekalipun mereka
diusir tetapi ada kampung-kampung lain yang menginginkan seorang guru, dari
sinilah Bapa Reuter yang melakukan pelayanan penginjilan dan membuka lapangan
terbang di Kosarek. Menghadapi banyak tantangan dan pertikaian menganggap bahwa
perjalanan Dr.Siegfriet Zoellner dan Adam Roth meyakini bahwa sudah perna
melakukan doa sulung. Pada akhirnya pada 10 september 2014 di kursus pembianaan
Jemaat kasih uang satu juta kepada Jemaat serekahi dan minta kepada mereka
untuk bangun tanda bekas kaki dan taman bunga.
1. Wawancara
dengan Dr. Siegfriet Zoellner
Saya merasa bangga karena waktu pas untuk melakukan wawancara dengan
Bapak Misionaris yang susah senang taruhan nyawa pekerja untuk menyiarkan Injil
di daerah Yalimo, waktu saya ketua Asrama Pdt. S. Liborang, Natan Pahabol
telpon saya dan bilang “Ade Gerson datang Asrama P3W dan ikut Pelatihan yang
dilakukan oleh CLD di padang bulan,” waktu saya ke Asrama P3W hatiku rasa
sukacita karena disitu ada Bapa-bapa Misionaris, bapak Zoellner, Tometten dan
Volker. Karena saya penasaran waktu kami selesai makan siang. Saya perusaha mendekati Bapak Siegfried
Zoellner tanya tentang penyiaran Injil
di Kosarek, pertanyaan saya begini, “Injil masuk di Kosarek, benar itu yang mana? yang ke serekahi baru
dapat usir itu ka? Atau masuk lewat Nohomas?” Jawabnya, “Namloho di Kosarek
pertama kami melakukan perjalanan dan pergi tidur di serekahi dan paginya kami
dapat usir jadi kembali ke Angguruk dan selanjutnya bersama Bapak Reuter masuk
lewat Nohomas untuk membuka lapangan terbang disana.” Karena saya tidak puas
kembali tanya lagi, Bapak waktu perjalanan ke Kosarek doa sulung yang
sebenarnya yang mana? Jawabnya, anak kami waktu beritakan Injil kemana saja
kami berdoa, karena doa kami bisa melakukan pekerjaan apa saja dan susah payah
membuka daerah Yalimo tetapi, sekarang pemerintah masuk baru merusak segala
upaya dan perjuangan yang kami buat pada waktu itu.” Dan dia menjelaskan hal
lain lagi, “ Namloho, setelah pemerintah masuk dari Kabupaten Yalimo dan
Yahukimo saja untuk Allah Wene orang ke
Gereja semakin berkurang. setelah Kabupaten Yalimek masuk baru orang rajin ke
Gereja dan tingkatkan Allah Wene ka?”
Ternyata dari wawancara ini menjukan bahwa doa sulung waktu mereka
bermalam di sebla serekahi di sobom itu sudah lakukan, karena saat saya tanya
Bapak Zoellner jawab dengan tenang dan bilang, “Namloho, karena doa kami bisa melakukan pekerjaan apa
saja dan susah payah membuka daerah Yalimo,” di Kosarek termasuk daerah misi
baru yang mau dibuka atas permintaan orang serekahi yang di Telam naik minta
penginjil lebih duluan, maka setelah kembali ke Angguruk kembali dengan
aktivitas awal.
2. 2. Wawancara dengan Bapak Reuter
Setelah Pdt Klauss Reuter kasih uang satu juta kepada
Jemaat di efata serekahi pada tanggal 10 september 2014 dalam kursus pembinaan
di Kosarek. Bapak Klaus kembali ke Jerman. Kami mulai bentuk Panitia di dekai
dan lanjutkan ke kampung di Wenput. Setelah doa bersama Klasis di wamena kami
turun ke Jayapura untuk laporkan hasil rapat dan sebagai laporan kami ke Sinode
dan telpon ke Jerman kepada Bapak Pdt Klaus Reuter. Setelah kami lapor di
sinode telpon ke Jerman, dalam telpon yang durasi waktu 15 menit 16 detik.
Dalam wawancaranya;
|
Gerson |
: |
Syalom selamat
malam Bapa |
|
Klaus |
: |
Ya, selamat malam apa kabar? |
|
Gerson |
: |
kabar baik sekali, terima kasih kami bisa berjumpa dan
bicara dengan Bapa lagi, Saya dengan Gerson Mulikma anak dari Thomas Mulikma, |
|
Klaus |
: |
Ia, |
|
Gerson |
: |
Saya bersama dengan Zeblon Yohame, anak dari Bapak
Penginjil Semuel Yohame, kami sekarang ini, di dampingi Oleh Badan Pekerja
Klasis Yalimo. |
|
Klaus |
: |
Ia baik apa kabar sekarang? |
|
Gerson |
: |
Kabar baik sekali, dan masyarakat serekahi,
Pindewalikmu dan telambela juga salam buat bapak, dan kami juga dapat surat
balasan dari bapak Zoellner jadi senang sekali, |
|
Klaus |
: |
Ia baik, |
|
Gerson |
: |
Bapak kami dari Panitia Tugu atau monuman, yang
sudah perna kami kirim surat september yang lalu sebagai bentuk
pemberitahuan, kepada bapak. sudah terima dan sudah jawab jadi kami senang
sekali, |
|
Klaus |
: |
Ia |
|
Gerson |
: |
Waktu itu dalam kursus pembinaan jemaat Bapak perna kasih
uang satu juta kepada jemaat Serekahi, dan bilang buat tanda atau taman
bunga. |
|
Klaus |
: |
Ia, Tetapi saya dapat direncanakan bahwa tidak jadi
tahun ini, melainkan mereka mau tunda pada tahun depan. |
|
Gerson |
: |
Ia, Bapa |
|
Klauss |
: |
Apa berita itu benar ka? |
|
Gerson |
: |
Kami disini khusu untuk pembangunan tahapan
konsultan, tukang akan menentukan, pasir berapa ret, semen berapa sak? Tapi
rencana peresmian tahun 2020 itu yang perna kami kirim surat pemberitahuan
kepada bapak? |
|
Klaus |
: |
Ya. Tetapi masalah ini bahwa, tidak dapat kesempatan
tahun ini lagi, karena kami sudah tunda, pertemuan di Kosarek, melalui surat
kami karena kami dapat informasi bahwa tidak lakukan tahun ini. |
|
Gerson |
: |
Kami panitia dalam tahapan kerja, Bapak kapan-kapan
ke Papua sesuaikan jadwal perjalanan Bapak untuk Peresmian. |
|
Klaus |
: |
Oh, begitu, ini bahwa, berita ini benar. Kita bisa
tunda lagi, satu tahun. |
|
Gerson |
: |
Ia |
|
Klaus |
: |
Kita akan tunda lagi pertemuan tahun depan, 2018 |
|
Gerson |
: |
Pembangunan belum jalan kami rencana mau undang
bapak itu tahun 2020 bukan tahun 2018, tahun depan. |
|
Klaus |
: |
Eee, tetapi ee saya pikir bahwa, suatu rombongan
yang cukup besar kami akan datang ke Kosarek, untuk peresmian tugu ini,
tetapi saya rasa bahwa ini lebih baik, kita tunda ini pada waktu tahun depan,
|
|
Gerson |
: |
Ia ia, bisa bapa kami ikut petunjuk dari bapak saja. |
|
Klaus |
: |
Ia, oke kalau begitu, sudah jelas ya! |
|
Gerson |
: |
Terima kasih bapak, kalau sudah jelas kami
masyarakat Serekasi, pindewalukmu, dan telambela sangat senang dan Tuhan
memberkati bapak dalam pelayanan. |
|
Klaus |
: |
Ya, baik. Terima kasih banyak, atas semua kata-kata dalam, tentang kami akan
tunda ini untuk tahun depan, |
|
Gerson |
: |
Ia, kami sudah mengerti bapak. |
|
Klaus |
: |
Ia, kalau sekarang sudah ada rombangan besar, eee
yang akan ikut, ke pindewalikmu dan juga ke Kosarek. |
|
Gerson |
: |
Ya, terima kasih kami akan sampaikan jemaat di
Pindewalikmu, Serekasi dan telambela. |
|
Klaus |
: |
Ia, baik. |
Dalam sejarah Pekabaran Injil mendokumentasikan bahwa Pdt. Reuter Klaus menggantikan Dr.
Siegfried zoellner pelayanan di Wilayah Yalimo. Wawancara dengan durasi waktu
15 menit 16 detik yang kami lakukan,
bahwa tidak ada sedikitpun keberatan untuk perjalanan Bapak Misionaris pdt
Klaus dan rombongan ke Kosarek meresmikan tugu dan niat besar untuk kunjungan
ke Pindewalikmu, yang sudah perna jatuh
bangun dan membuka lapangan terbang di Kosarek.
Dalam komunikasi telpon yang kami lakukan pada tahun 2017 Pdt. Klauss
ingin sekali mau ajak tamu lainnya dengan rombongan besar dari Jerman mau
kunjungan ke Kosarek tetapi sayang sekali karena Tuhan berhendak lain sehingga
mengakhiri hidup pada tanggal 8 Mei 2019
3.
3. Kisah Kehidupan dan pelayanan Keluarga Reuter
Kelauarga Pdt Klaus Reuter dan istrinya Erika Reuter
adalah utusan misi dari, “Vereinigte Evangelische Mission” (VEM, Jerman Barat) dan
bekerja dibawah penugasan dan naungan “Gereja Kristen Injili di Irian Jaya”
(GKI). Dari tahun 1972-1980. Perjalanan ke suatu dunia yang baru itu sangat
berat, namun dengan komitmen hati yang tinggi untuk melayani di daerah Yalimo
pada tanggal 19 Mei 1972 terbang dari sentani ke Angguruk dengan sebuah pesawat
kecil bermesin satu dengan tipe Cessna yang memuat 5 orang. Perjalanan yang
panjang menulusuri danau sentani, hutan Mamberamo, rawa-rawa, sungai Mamberamo
dan gunung-gunung pada selama 40 menit udara menikmati semua keindahan dan
mendarat di Angguruk dan di sambut oleh banyak orang menyanyi kiri dan kanan
mengucapkan selamat datang dengan kata, “Nare” dengan ramah yang berarti “Sobat,
salam untukmu”. Pada disambut baik oleh keluarga Zoellner ke rumah.
Klaus, Pada hari sabtu, tanggal 19 Agustus 1972 Zoellner dengan dan saya
berangkat untuk mengunjungi para siswa Sekolah Alkitab yang berada di Nisiksi,
Pinij, dan Pindok. Hari sudah mulai sore dan kami harus terus ke Pinij. Setelah
setelah berjalan dua jam kami tiba dalam keadaan lelah di kampung besar itu.
Orang Yali di Pinij memakai bahasa lain. Tetapi karena Pinij adalah daerah
berbatasan maka kebanyakan orang Pinij bisa mengerti bahasa angguruk. Meskipun
demikian kami anjurkan kepada para siswa Sekolah Alkitab untuk belajar bahasa
disana, karena bahasa di Pinij juga merupakan bahasa yang digunakan di daerah
Kosarek. Menurut laporan-laporan terbaru yang masuk ada beberapa kampung di
daerah Kosarek yang menginginkan seorang guru, tetapi disisi yang lain juga ada
kampung-kampung lain yang sedang menyiapkan peralatan perang untuk membunuh
setiap orang baru yang datang. Yang pasti kami sedang menyiapkan segala sesuatu
untuk hari X di Kosarek yang kami yakini pasti akan tiba waktunya.
Erika (Minggu adven pertama 1972): “Tadi pagi Siegfried dan Klaus berangkat
menuju Kosarek. Daerah itu terletak di sebelah utara dari kami dan dikenal
sebagai daerah tertutup yang belum dikenal dan bersikap memusuhi Injil dan
hal-hal yang baru. Dua tahun yang lalu Siegfried zoellner dan Adam Roth di usir
dari bussur dan panah dari daerah itu. Sejak itu belum ada yang pergi kembali
ke Kosarek, tetapi kadang-kadang ada orang dari sana yang datang kemari dengan tujuan
melihat-lihat. Kelihatannya mereka juga memiliki kerinduan untuk mendengarkan
kabar baik. Oleh karena itu mereka berdua memberanikan diri untuk berangkat
kesana. Dalam waktu 1-2 minggu Ilse dan saya mengharapkan mereka akan kembali
dalam keadaan yang baik dan sehat. Lusa bahan-bahan makanan dan peralatan harus
disiapkan di Apahapsili untuk di drop untuk mereka, artinya dibuang keluar dari
pesawat. Sungguh suatu petualangan yang menegangkan!”
Klaus: “Lembah Kosarek terletak 2 sampai 3 hari perjalana kaki dari Angguruk
dan di diami oleh 6 atau 7 kampung dengan penduduk sekitar 1500 sampai 2000
jiwa. Sudah dua tahun yang lalu Siegfried Zoellner dan Adam Roth berusaha untuk
menjalin hubungan dengan orang-orang disana, namun tidak berhasil.
Pada hari minggu advent yang pertama kami mencoba lagi
untuk pergi kesana. Menurut pandangan berbagai orang kabarnya orang-orang
disana tidak bersikap memusuhi dan telah terbuka terhadap hal yang baru, yaitu
Injil. Salah seorang siswa Sekolah Alkitab kami berangkat kesana atas inisiatif
sendiri dan kembali dengan berita, bahwa mereka akan menerima kami. Demikianlah
kami berangkat dengan 35 pria muda dari Angguruk-siswa Sekolah Alkitab dan para
majelis-pengantar dan mendampingi kami.
Pada hari yang kedua, setelah kami mendaki dua puncak
gunung dengan ketinggian 3000 meter kami tiba di kampung pertama lembah
Kosarek. Kami sudah berjlan kaki merayap selama delapan jam dan mengharapkan
dapat menemukan sebuah pondok untuk menginap. Akan tetapi ketika penduduk
kampung itu melihat kami mereka mengambil busur dan panah mereka dan lari
pergi. Karena orang-orang Kosarek memiliki bahasa yang beda dari orang Yali di
Angguruk, kami sampaikan pesan lewat penterjemah kami yang kemudian meneriakan:
Jangan lari pergi! Kami adalah sahabat-sahabat kalian dan ingin berbicara
dengan kalian!’
4.
4. Landasan pembangunan Tugu Peringatan
Memang benar semua pihak menolak
untuk pembangunan tugu peringatan di Serekahi, tetapi semua tahap di dorong
lewat Tata Gereja,
Gereja Kristen Injili Di Tanah Papua, Tahun 1956 yang mengalami perubahan yang
ke enam kalinya pada sidang sinode XIV GKI Tahun 2000 di sorong.
Dan Peraturan
tentang jemaat, Klasis dan sinode
khususnya Bab V, Pasal 15 tentang Tugas dan Wewenang badan Pekerja Klasis.
Pada akhirnya
pembangunan tugu peringatan dibangun dengan landasan;
1.
Suatu amanah kebenaran Firman Tuhan
Kejadian 13: 3 pembangunan mula-mula di Wilayah Kosarek.
2.
Tindak lanjut / mandate Interupsi Bapak
pdt. Klaus Reuter pada tanggal 10 September 2014 di Kosarek dalam kursus pembinaan
Jemaat.
3.
Hasil Keputusan Rapat majelis jemaat
Efata Serekahi padaTahun 2016, tentang
Perayaan dan pembangunan Monumen Injil.
4.
Surat Keputusan Klasis GKI Yalimo
Anggruk Nomor: 59/A/B_X-V-KOS/IX/2016 tentang pembangunan Monumen Injil di
Serekahi Sobom Sebagai tanda bekas kaki sendiling atau doa sulung Pertama
Wilayah jayahan Pos PI Kosarek.
5.
Rapat Terbuka pembentukan panitia kota
pembangunan Monumen Injil 11 Juli 2016
di dekai Yahukimo.
6.
Rapat Terbuka pembentukan panitia Lokal
pembangunan tugu Injil Pada tanggal 30
Agustus 2016 di pintewalikmu-Wenput.
7.
Koordinasi dan doa bersama klasis GKI
Yalimo pada tanggal 15 September 2016 Di Wamena.
8.
Penetapan hasil kursus pembinaan Jemaat
Badan Pekerja Klasis GKI Yalimo Angguruk wilayah V Kosarek pada tanggal 24-25 Oktober
2016 di Kosarek tentang pembangunan monunen Injil di jemaat Efata Serekahi.
Berdasarkan Program kerja BPK Wilayah V Kosarek.
Pada akhirnya sekalipun belum selesai bangunan Tugu
peringatan pada hari ini, pada tanggal 25 November 2020 genap 50 tahun Emas kami
dokumentasikan sejarah yang tidak didukung oleh wawancara Ismael Robby Silak di
Wilayah Kosarek dalam bukunya. “Dibelakang gunung terbitlah terang,” dan ikut
di musnahkan oleh para penguasa Abdula di Wilayah Kosarek.
Selamat Melayani dan beritakan terus Injil Kerajaan
Allah di Wilayah Kosarek, dimana saja kita dipanggil dan diutus. dan selamat selamat bekerja untuk Yubelium 50 tahun Emas 4 Desember. sebenarnya
tepat hari ini juga peresmian Tugu peringatan di Serekahi tetapi kami hanya
dukumentasikan Karena lockdown jadi tamu dan undangan dari Jerman tidak bisa
masuk di Papua. Tetapi dengan besar hati kami Permohonan
Maaf untuk Sussane Reuter dan fiedrieck Tometten yang tidak hadir hari ini.
Selamat
Merayakan Hari Doa Sulung peristiwa Pengusiran Injil di Wilayah V Kosarek.
Tuhan Memberkati
Jayapura 25 November 2020
Penulis
Gerson Mulikma,
Anak Penginjil Pertama dari Orang Kosarek