Selasa, 24 November 2020

Sejarah Penyiaran Injil dan Pembangunan Tugu Peringatan di Wilayah V Kosarek

Injil masuk di lembah Yalimo kampung suwele Piliyam tanggal 24 maret 1961 merupakan keutuhan misi penginjilan GKI di daerah Yalimo, hanya karena kepentingan kerajaan Allah menuntun Misionaris mendaratkan Injil di daerah Yali dan Mek karena berada di satu lembah yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan social kemasyarakatan tetapi di bedakan dari suku dan bahasa. Injilpun mulai menyebar melakukan penyiaran di lembah Yahuli di angguruk masuk pada tanggal 19 Mei 1961. Tempat dimana pusat pelayanan penginjilan, pelayanan pendidikan nonformal Nare-nare dan pusat kesehatan,  di angguruk di tetapkan sebagai pusat semua pelayanan oleh missionaris. 

pada waktu pekerjaan lapangan terbang angguruk ada beberapa orang dari serekahi juga terlibat karena lantaran hubungan kekeluargaan dengan orang helariki. Orang Serekahi banyak sekali keturunan dari helariki dan sebaliknya, termasuk penginjil pertama dari orang Kosarek Ismael Suhuniap ibunya dari Helariki dan Penginjil Pertama Thomas mulikma lahir di helariki di uala.

Karena lantaran hubungan kekeluargaan orang serekahi dan orang Helariki pada tahun 1964 Maklon soneap bersama rombongan naik ke Angguruk bantu kerja lapangan di Homtongko yang sekarang disebut dengan Angguruk,  dan setelah kerja saat mau pulang hadiah yang dikasih oleh Para Misionaris berupa garam, perna bawah turun ke orang serekahi yang tinggal di Telam dan Pintewalikmu dan ada beberapa orang lagi naik minta ke Pdt. Siegfried Zoelner untuk bawah kabar baik atau (ALLAH WENE) ke daerah mereka. Tetapi karena pelayanan untuk missi baru belum dipikirkan sehingga mereka focus kepada perluasan pelayanan di wilayah angguruk lembah Yahuli dan Sosom terlebih dahulu melakukan perluasan Injil.

Pada akhirnya pada tanggal 25 November 1970 Pdt. Siegfried Zoelner dan Adam Roth bersama rombongan mulai berjalan dari Angguruk untuk buka misi baru di daerah Kosarek. Mereka sampai di seberang gunung yenggu berseblaan dengan kampung serekahi di sobom, karena waktu sudah malam mereka melakukan doa sulung dan tidur di situ, pada pagi hari ada pihak yang tidak terima dengan kedatangan mereka karena persiapan jimat-jimat atau (merawal) langsung komukasi dengan kampung lain untuk melakukan penyerangan, tetapi karena orang serekahi,  ada pihak lain merasa kasih sayang terhadap mereka pergi duluan ke Sobom dan tembak panah sembarangan supaya mereka harus meninggalkan tempat dan kembali ke anggruk. Kalau tidak ada orang yang pergi duluan tembak kearah lain sebagai kode untuk mereka tinggalkan sobom di sebla serekahi berarti masa besar dari berbagai kampung yang datang membunuh Pdt. Siegfried Zoellner dan Adam Roth Bersama Rombongan.

Perjalanan mereka ini banyak yang menduga bahwa melakukan penolakan, sedangkan dalam bukunya, Susanne Kisah kehidupan dan pelayanan Keluarga Pdt. Klaus Reuter, yang di terbitkan oleh Wahine di halaman 65. “Meskipun demikian kami anjurkan kepada para siswa sekolah Alkitab, untuk belajar bahasa disana, karena bahasa di pinij juga merupakan bahasa yang di gunakan di daerah Kosarek, yaitu daerah dimana Zoellner dan Roth perna di usir ketika melakukan perjalanan kunjungan untuk membuka hubungan. Di kemudian hari apabila orang-orang dari Kosarek meminta penginjil atau guru, maka para siswa inilah yang bisa memulai pelayanan disana. Menurut laporan-laporan terbaru yang masuk ada beberapa kampung di daerah Kosarek yang menginginkan seorang guru, tetapi disisi yang lain juga ada kampung-kampung lain yang menyiapkan peralatan perang untuk membunuh setiap orang baru yang datang. Yang pasti kami sedang menyiapkan segala sesuatu untuk hari ke X di Kosarek yang kami yakini pasti akan tiba waktunya.”

Dalam buku ini menjelaskan bahwa sekalipun mereka diusir tetapi ada kampung-kampung lain yang menginginkan seorang guru, dari sinilah Bapa Reuter yang melakukan pelayanan penginjilan dan membuka lapangan terbang di Kosarek. Menghadapi banyak tantangan dan pertikaian menganggap bahwa perjalanan Dr.Siegfriet Zoellner dan Adam Roth meyakini bahwa sudah perna melakukan doa sulung. Pada akhirnya pada 10 september 2014 di kursus pembianaan Jemaat kasih uang satu juta kepada Jemaat serekahi dan minta kepada mereka untuk bangun tanda bekas kaki dan taman bunga.


1.    Wawancara dengan Dr. Siegfriet Zoellner

Saya merasa bangga karena waktu pas untuk melakukan wawancara dengan Bapak Misionaris yang susah senang taruhan nyawa pekerja untuk menyiarkan Injil di daerah Yalimo, waktu saya ketua Asrama Pdt. S. Liborang, Natan Pahabol telpon saya dan bilang “Ade Gerson datang Asrama P3W dan ikut Pelatihan yang dilakukan oleh CLD di padang bulan,” waktu saya ke Asrama P3W hatiku rasa sukacita karena disitu ada Bapa-bapa Misionaris, bapak Zoellner, Tometten dan Volker. Karena saya penasaran waktu kami selesai makan siang.  Saya perusaha mendekati Bapak Siegfried Zoellner  tanya tentang penyiaran Injil di Kosarek, pertanyaan saya begini, “Injil masuk di Kosarek,  benar itu yang mana? yang ke serekahi baru dapat usir itu ka? Atau masuk lewat Nohomas?” Jawabnya, “Namloho di Kosarek pertama kami melakukan perjalanan dan pergi tidur di serekahi dan paginya kami dapat usir jadi kembali ke Angguruk dan selanjutnya bersama Bapak Reuter masuk lewat Nohomas untuk membuka lapangan terbang disana.” Karena saya tidak puas kembali tanya lagi, Bapak waktu perjalanan ke Kosarek doa sulung yang sebenarnya yang mana? Jawabnya, anak kami waktu beritakan Injil kemana saja kami berdoa, karena doa kami bisa melakukan pekerjaan apa saja dan susah payah membuka daerah Yalimo tetapi, sekarang pemerintah masuk baru merusak segala upaya dan perjuangan yang kami buat pada waktu itu.” Dan dia menjelaskan hal lain lagi, “ Namloho, setelah pemerintah masuk dari Kabupaten Yalimo dan Yahukimo saja untuk Allah Wene  orang ke Gereja semakin berkurang. setelah Kabupaten Yalimek masuk baru orang rajin ke Gereja dan tingkatkan Allah Wene ka?”

Ternyata dari wawancara ini menjukan bahwa doa sulung waktu mereka bermalam di sebla serekahi di sobom itu sudah lakukan, karena saat saya tanya Bapak Zoellner jawab dengan tenang dan bilang, “Namloho,  karena doa kami bisa melakukan pekerjaan apa saja dan susah payah membuka daerah Yalimo,” di Kosarek termasuk daerah misi baru yang mau dibuka atas permintaan orang serekahi yang di Telam naik minta penginjil lebih duluan, maka setelah kembali ke Angguruk kembali dengan aktivitas awal.

 

2.      2. Wawancara dengan Bapak Reuter

Setelah Pdt Klauss Reuter kasih uang satu juta kepada Jemaat di efata serekahi pada tanggal 10 september 2014 dalam kursus pembinaan di Kosarek. Bapak Klaus kembali ke Jerman. Kami mulai bentuk Panitia di dekai dan lanjutkan ke kampung di Wenput. Setelah doa bersama Klasis di wamena kami turun ke Jayapura untuk laporkan hasil rapat dan sebagai laporan kami ke Sinode dan telpon ke Jerman kepada Bapak Pdt Klaus Reuter. Setelah kami lapor di sinode telpon ke Jerman, dalam telpon yang durasi waktu 15 menit 16 detik. Dalam wawancaranya;

Gerson           

:

Syalom selamat malam Bapa

Klaus

:

Ya, selamat malam apa kabar?

Gerson           

:

kabar baik sekali, terima kasih kami bisa berjumpa dan bicara dengan Bapa lagi, Saya dengan Gerson Mulikma anak dari Thomas Mulikma,

Klaus

:

Ia,

Gerson

:

Saya bersama dengan Zeblon Yohame, anak dari Bapak Penginjil Semuel Yohame, kami sekarang ini, di dampingi Oleh Badan Pekerja Klasis Yalimo.

Klaus

:

Ia baik apa kabar sekarang?

Gerson

:

Kabar baik sekali, dan masyarakat serekahi, Pindewalikmu dan telambela juga salam buat bapak, dan kami juga dapat surat balasan dari bapak Zoellner jadi senang sekali,

Klaus

:

Ia baik,

Gerson

:

Bapak kami dari Panitia Tugu atau monuman, yang sudah perna kami kirim surat september yang lalu sebagai bentuk pemberitahuan, kepada bapak. sudah terima dan sudah jawab jadi kami senang sekali,

Klaus

:

Ia

Gerson

:

Waktu itu dalam kursus pembinaan jemaat Bapak perna kasih uang satu juta kepada jemaat Serekahi, dan bilang buat tanda atau taman bunga.

Klaus

:

Ia, Tetapi saya dapat direncanakan bahwa tidak jadi tahun ini, melainkan mereka mau tunda pada tahun depan.

Gerson

:

Ia, Bapa

Klauss

:

Apa berita itu benar ka?

Gerson

:

Kami disini khusu untuk pembangunan tahapan konsultan, tukang akan menentukan, pasir berapa ret, semen berapa sak? Tapi rencana peresmian tahun 2020 itu yang perna kami kirim surat pemberitahuan kepada bapak?

Klaus

:

Ya. Tetapi masalah ini bahwa, tidak dapat kesempatan tahun ini lagi, karena kami sudah tunda, pertemuan di Kosarek, melalui surat kami karena kami dapat informasi bahwa tidak lakukan tahun ini.

Gerson

:

Kami panitia dalam tahapan kerja, Bapak kapan-kapan ke Papua sesuaikan jadwal perjalanan Bapak untuk Peresmian.

Klaus

:

Oh, begitu, ini bahwa, berita ini benar. Kita bisa tunda lagi, satu tahun.

Gerson

:

Ia

Klaus

:

Kita akan tunda lagi pertemuan tahun depan, 2018

Gerson

:

Pembangunan belum jalan kami rencana mau undang bapak itu tahun 2020 bukan tahun 2018, tahun depan.

Klaus

:

Eee, tetapi ee saya pikir bahwa, suatu rombongan yang cukup besar kami akan datang ke Kosarek, untuk peresmian tugu ini, tetapi saya rasa bahwa ini lebih baik, kita tunda ini pada waktu tahun depan,

Gerson

:

Ia ia, bisa bapa kami ikut petunjuk dari bapak saja.

Klaus

:

Ia, oke kalau begitu, sudah jelas ya!

Gerson

:

Terima kasih bapak, kalau sudah jelas kami masyarakat Serekasi, pindewalukmu, dan telambela sangat senang dan Tuhan memberkati bapak dalam pelayanan.

Klaus

:

Ya, baik. Terima kasih banyak, atas  semua kata-kata dalam, tentang kami akan tunda ini untuk tahun depan,

Gerson

:

Ia, kami sudah mengerti bapak.

Klaus

:

Ia, kalau sekarang sudah ada rombangan besar, eee yang akan ikut, ke pindewalikmu dan juga ke Kosarek.

Gerson

:

Ya, terima kasih kami akan sampaikan jemaat di Pindewalikmu, Serekasi dan telambela.

Klaus

:

Ia, baik.

 

Dalam sejarah Pekabaran Injil mendokumentasikan  bahwa Pdt. Reuter Klaus menggantikan Dr. Siegfried zoellner pelayanan di Wilayah Yalimo. Wawancara dengan durasi waktu 15 menit 16 detik  yang kami lakukan, bahwa tidak ada sedikitpun keberatan untuk perjalanan Bapak Misionaris pdt Klaus dan rombongan ke Kosarek meresmikan tugu dan niat besar untuk kunjungan ke Pindewalikmu,  yang sudah perna jatuh bangun dan membuka lapangan terbang di Kosarek.  Dalam komunikasi telpon yang kami lakukan pada tahun 2017 Pdt. Klauss ingin sekali mau ajak tamu lainnya dengan rombongan besar dari Jerman mau kunjungan ke Kosarek tetapi sayang sekali karena Tuhan berhendak lain sehingga mengakhiri hidup pada tanggal 8 Mei 2019

 

3.      3. Kisah Kehidupan dan pelayanan Keluarga Reuter

Kelauarga Pdt Klaus Reuter dan istrinya Erika Reuter adalah utusan misi dari, “Vereinigte Evangelische Mission” (VEM, Jerman Barat) dan bekerja dibawah penugasan dan naungan “Gereja Kristen Injili di Irian Jaya” (GKI). Dari tahun 1972-1980. Perjalanan ke suatu dunia yang baru itu sangat berat, namun dengan komitmen hati yang tinggi untuk melayani di daerah Yalimo pada tanggal 19 Mei 1972 terbang dari sentani ke Angguruk dengan sebuah pesawat kecil bermesin satu dengan tipe Cessna yang memuat 5 orang. Perjalanan yang panjang menulusuri danau sentani, hutan Mamberamo, rawa-rawa, sungai Mamberamo dan gunung-gunung pada selama 40 menit udara menikmati semua keindahan dan mendarat di Angguruk dan di sambut oleh banyak orang menyanyi kiri dan kanan mengucapkan selamat datang dengan kata, “Nare” dengan ramah yang berarti “Sobat, salam untukmu”. Pada disambut baik oleh keluarga Zoellner ke rumah.

Klaus, Pada hari sabtu, tanggal 19 Agustus 1972 Zoellner dengan dan saya berangkat untuk mengunjungi para siswa Sekolah Alkitab yang berada di Nisiksi, Pinij, dan Pindok. Hari sudah mulai sore dan kami harus terus ke Pinij. Setelah setelah berjalan dua jam kami tiba dalam keadaan lelah di kampung besar itu. Orang Yali di Pinij memakai bahasa lain. Tetapi karena Pinij adalah daerah berbatasan maka kebanyakan orang Pinij bisa mengerti bahasa angguruk. Meskipun demikian kami anjurkan kepada para siswa Sekolah Alkitab untuk belajar bahasa disana, karena bahasa di Pinij juga merupakan bahasa yang digunakan di daerah Kosarek. Menurut laporan-laporan terbaru yang masuk ada beberapa kampung di daerah Kosarek yang menginginkan seorang guru, tetapi disisi yang lain juga ada kampung-kampung lain yang sedang menyiapkan peralatan perang untuk membunuh setiap orang baru yang datang. Yang pasti kami sedang menyiapkan segala sesuatu untuk hari X di Kosarek yang kami yakini pasti akan tiba waktunya.

Erika (Minggu adven pertama 1972): “Tadi pagi Siegfried dan Klaus berangkat menuju Kosarek. Daerah itu terletak di sebelah utara dari kami dan dikenal sebagai daerah tertutup yang belum dikenal dan bersikap memusuhi Injil dan hal-hal yang baru. Dua tahun yang lalu Siegfried zoellner dan Adam Roth di usir dari bussur dan panah dari daerah itu. Sejak itu belum ada yang pergi kembali ke Kosarek, tetapi kadang-kadang ada orang dari sana yang datang kemari dengan tujuan melihat-lihat. Kelihatannya mereka juga memiliki kerinduan untuk mendengarkan kabar baik. Oleh karena itu mereka berdua memberanikan diri untuk berangkat kesana. Dalam waktu 1-2 minggu Ilse dan saya mengharapkan mereka akan kembali dalam keadaan yang baik dan sehat. Lusa bahan-bahan makanan dan peralatan harus disiapkan di Apahapsili untuk di drop untuk mereka, artinya dibuang keluar dari pesawat. Sungguh suatu petualangan yang menegangkan!”

Klaus: “Lembah Kosarek terletak 2 sampai 3 hari perjalana kaki dari Angguruk dan di diami oleh 6 atau 7 kampung dengan penduduk sekitar 1500 sampai 2000 jiwa. Sudah dua tahun yang lalu Siegfried Zoellner dan Adam Roth berusaha untuk menjalin hubungan dengan orang-orang disana, namun tidak berhasil.

Pada hari minggu advent yang pertama kami mencoba lagi untuk pergi kesana. Menurut pandangan berbagai orang kabarnya orang-orang disana tidak bersikap memusuhi dan telah terbuka terhadap hal yang baru, yaitu Injil. Salah seorang siswa Sekolah Alkitab kami berangkat kesana atas inisiatif sendiri dan kembali dengan berita, bahwa mereka akan menerima kami. Demikianlah kami berangkat dengan 35 pria muda dari Angguruk-siswa Sekolah Alkitab dan para majelis-pengantar dan mendampingi kami.

Pada hari yang kedua, setelah kami mendaki dua puncak gunung dengan ketinggian 3000 meter kami tiba di kampung pertama lembah Kosarek. Kami sudah berjlan kaki merayap selama delapan jam dan mengharapkan dapat menemukan sebuah pondok untuk menginap. Akan tetapi ketika penduduk kampung itu melihat kami mereka mengambil busur dan panah mereka dan lari pergi. Karena orang-orang Kosarek memiliki bahasa yang beda dari orang Yali di Angguruk, kami sampaikan pesan lewat penterjemah kami yang kemudian meneriakan: Jangan lari pergi! Kami adalah sahabat-sahabat kalian dan ingin berbicara dengan kalian!’

 

4.      4. Landasan pembangunan Tugu Peringatan

Memang benar semua pihak menolak untuk pembangunan tugu peringatan di Serekahi, tetapi semua tahap di dorong lewat Tata Gereja, Gereja Kristen Injili Di Tanah Papua, Tahun 1956 yang mengalami perubahan yang ke enam kalinya pada sidang sinode XIV GKI Tahun 2000 di sorong. Dan Peraturan tentang jemaat,  Klasis dan sinode khususnya Bab V, Pasal 15 tentang Tugas dan Wewenang badan Pekerja Klasis.

Pada akhirnya pembangunan tugu peringatan dibangun dengan landasan;

1.      Suatu amanah kebenaran Firman Tuhan Kejadian 13: 3 pembangunan mula-mula di Wilayah Kosarek.

2.      Tindak lanjut / mandate Interupsi Bapak pdt. Klaus Reuter pada tanggal 10 September 2014 di Kosarek dalam kursus pembinaan Jemaat.

3.      Hasil Keputusan Rapat majelis jemaat Efata Serekahi padaTahun 2016,  tentang Perayaan dan pembangunan Monumen Injil.

4.      Surat Keputusan Klasis GKI Yalimo Anggruk Nomor: 59/A/B_X-V-KOS/IX/2016 tentang pembangunan Monumen Injil di Serekahi Sobom Sebagai tanda bekas kaki sendiling atau doa sulung Pertama Wilayah jayahan Pos PI Kosarek.

5.      Rapat Terbuka pembentukan panitia kota pembangunan Monumen Injil  11 Juli 2016 di dekai Yahukimo.

6.      Rapat Terbuka pembentukan panitia Lokal pembangunan tugu Injil  Pada tanggal 30 Agustus 2016 di pintewalikmu-Wenput.

7.      Koordinasi dan doa bersama klasis GKI Yalimo pada tanggal 15 September 2016 Di Wamena.

8.      Penetapan hasil kursus pembinaan Jemaat Badan Pekerja Klasis GKI Yalimo Angguruk wilayah V Kosarek pada tanggal 24-25 Oktober 2016 di Kosarek tentang pembangunan monunen Injil di jemaat Efata Serekahi. Berdasarkan Program kerja BPK Wilayah V Kosarek.

 

 

Pada akhirnya sekalipun belum selesai bangunan Tugu peringatan pada hari ini, pada tanggal 25 November 2020 genap 50 tahun Emas kami dokumentasikan sejarah yang tidak didukung oleh wawancara Ismael Robby Silak di Wilayah Kosarek dalam bukunya. “Dibelakang gunung terbitlah terang,” dan ikut di musnahkan oleh para penguasa Abdula di Wilayah Kosarek.

Selamat Melayani dan beritakan terus Injil Kerajaan Allah di Wilayah Kosarek, dimana saja kita dipanggil dan diutus. dan selamat selamat bekerja untuk Yubelium 50 tahun Emas 4 Desember. sebenarnya tepat hari ini juga peresmian Tugu peringatan di Serekahi tetapi kami hanya dukumentasikan Karena lockdown jadi tamu dan undangan dari Jerman tidak bisa masuk di Papua. Tetapi dengan besar hati kami Permohonan Maaf untuk Sussane Reuter dan fiedrieck Tometten yang tidak hadir hari ini.

 

Selamat Merayakan Hari Doa Sulung peristiwa Pengusiran Injil di Wilayah V Kosarek. Tuhan Memberkati

 

 

 

Jayapura 25 November 2020

Penulis Gerson Mulikma,

Anak Penginjil Pertama dari Orang Kosarek